Senin, 27 Februari 2012

DIARY KECIL DALAM SENYUMAN INI…..

-->
Dear diary…

Tahun ini aku kembali bergoyang dalam tarian kerinduan dalam bahasa cinta dan kasih sayang yang telah kurasakan lagi setelah sekian lama menghilang dan bersembunyi dalam bayangan kepedihan dan kesakitan, kini semua itu berawal dari sebuah hari yang cerah yang kusampaikan lewat senyuman dan rasa semangat yang sengaja ku haturkan buat hati ini yang kembali merasakan apa yang selalu menjadi mimpi dikala separuh jiwa ini pergi….


Dear diary…

Dulu, disaat aku lagi sakit, disaat aku lagi rapuh, tidak ada siapa-siapa yang tersenyum padaku. Semuanya sibuk dengan dunianya, semuanya melupakan kerapuhan jiwa ini, semuanya melupakan sakitnya jiwa ini, itu semua yang aku rasakan dan yang terjadi pada jiwa dan raga ini. Tanpa pernah disentuh dan dilihat, hanya bisa kutersenyum dengan caraku dan duniaku saja.

Dear diary…

Kurindu dengan semua itu, dimana aku bisa kembali tersenyum karena ada yang tersenyum, aku kembali kuat karena ada yang kuat, aku kembali semangat karena ada yang semangat. Disisi kerinduan ini, aku berdo’a dalam malam-Mu, kumenangis dalam sajadah cinta-Mu, kusakit dalam ujian-Mu. Tapi, tidak pernah sedikitpun aku berlari dari diri-Mu. Aku masih saja sujud kepada-Mu, aku masih saja kuat, walaupun harus kututupi dengan senyuman palsuku.

Dear diary…

Kegalaun hati ini rasanya enggan tuk beranjak dalam jiwa ini ketika aku masih tersenyum dalam kepalsuan. Kutersenyum, aku kuat, aku semangat cuman disaat aku lagi ditengah – tengah orang yang ingin melihat aku kuat, melihat aku semangat, melihat aku tersenyum. Walaupun dalam kerapuhan ini aku berusaha tuk selalu tampil tersenyum dan semangat diantara kehidupan yang sukar ku pikir dengan jiwa dan raga yang sedang melayang dengan senyumanmu.

Dear diary…

Aku merasakan dimana jiwa dan raga ini berada dalam titik terendah dalam kehidupan. Apa yang aku rasakan ketika aku dalam posisi seperti itu, aku merasakan terendap dalam laraku, aku terendap dalam senyumanmu, aku terendap dalam kesenangan sesaat. Aku merasakan itu dengan masa yang sangat panjang, bahkan jiwa dan raga ini sudah mulai bosan dengan apa yang meraka bilang “cinta”. Sebab cinta mengajariku menangis, cinta mengajari sakit, cinta pula yang mengajariku tuk merasakan abu abu kehidupan ini.

Dear diary…

Aku merasakan terendap laraku ketika aku melihat senyummu, aku melihat kebahagianmu, aku melihat indahnya kehidupanmu. Padahal sekian lama aku berusaha mencoba tuk dapat merasakan kembali rasa itu. Aku merasakan perih dengan semua ini. Saat aku sakit kau ada buat aku, saat aku rapuh kau ada buat aku, saat aku lemah kau ada buat kau. Seakan jiwa ini menemukan penyemangat yang sempat hilang. Tapi…apa yang terjadi aku harus merelakan semua warna itu hilang dari senyuman ini, bersamaan dengan hilangnya separuh nafas ini, ketika kau tak lagi tersenyum buat aku…

Dear diary..

Jiwa ini pernah merasakan terhempas dengan senyummu, jiwa ini pernah merasakan terhempas dengan mimpi kita. Dulu, kau pupuk mimpi dalam jiwa ini tuk selalu merasakan senyummu setiap saat. Mencoba perlahan ku bangun mimpi itu dalam jiwa ini. Bersama kita selalu impiakan akan keindahan. Bersama kita bangun kepercayaan, bersama kita raih kebahagian. Itu semua Karena kamu, itu semua karena senyummu, itu semua karena semangatmu. Sebelum kau basmi, sebelum kau hancurkan, sebelum kau pecahkan…sakit !!.

Dear diary…

Setelah kau pergi dengan senyumanmu, semangatmu, dan impianmu yang telah kau berikan dan aku rasakan dalam jiwa ini, aku seakan kembali dengan duniaku dan caraku sendiri dalam menghadapi semua ini. Aku melihat kau tersenyum, aku melihat kau bahagia, aku melihat kau dengan orang lain disismu ketika kau tersenyum dan bahagia. Kenapa bukan aku,,???!. Entahlah, mungkin itulah keputusanmu dan aku harus siap. Karena itulah tuhan sedang menagajriku akan sifat “menerima”.

Dear diary…

Mencoba ku heningkan sejenak jiwa dan raga ini tuk lebih fokus sujud dalam Rahman dan Rahim-Mu, kuberanikan diri tuk sedikit lebih menghargai sesuatu yang terkadang aku belum bisa menerima itu semua. Engakau tuntun jiwa ini menuju ke Esaan-Mu, engkau perlihatkan kepadaku akan keindahan dunia-Mu, engkau perlihatkan kepadaku ketentraman alam ini. Semua itu aku rasakan dalam kehampaan hati ini yang masih merasakan bagaimana mimpi itu masih menjadi bagian dari kehidupan ini..

Dear diary…

Sesaat ku rebahkan jiwa ini dalam lingkaran mahabbah-Mu, kumerasa jiwa ini mulai kembali menemukan kembali rasa yang pernah hilang. Tanpa pernah aku sadari, engkau menunjukkan kepada aku akan pentingnya kehadiran belahan jiwa dikala jiwa dan raga ini mati suri. Engkau kirim seorang wanita yang begitu lembut, begitu penuh kasih sayang. Seakan aku ingin menangis dalam sajadah cinta-Mu tuk haturkan rasa syukur yang begitu sangan mendalam,,,

Dear diary…

Wanita itu yang kini mulai bisa membuat warna baru dalam kehidupanku. Warna yang lebih indah, warna yang lebih mengesankan. Wanita itu yang mengajariku akan keterpukan jiwa dan raga ini. Wanita itu pula yang mengajariku tuk bisa kembali dalam pelukan mahabbah-Mu tuhan. Wanita itu sangat special dalam jiwa dan raga ini. Aku begitu merasakan bagaiman tentramnya jiwa ini ketika aku mulai rebahkan kepala ini ke pundaknya, ketika ku mulai meluapkan tangisanku dalam pelukan hangatnya.

Dear diary…

Dulu aku pernah punya mimpi, tapi mimpi itu hilang dengan senyuman itu. Sekarang aku mulai membangun lagi mimpi itu bersama wanita yang selalau menjadi “cahaya pemimpin” dalam kehidupanku, wanita itu yang menjadi “Nur” dalam kegelapanku mengarungi kehidupan ini, karena wanita itu yang mampu memberikan warna berbeda. Wanita itu pula yang menjadi “Khalifah” dalam kerapuhan dan kehampaan rasa ini.

Dear diary…

Kini aku kembali merasakan indahnya rasa dan warna itu, rasa dan warna yang berbeda aku dapatkan dari seorang bidadari kecilku. Malaikat pun tau bagaimana pentingnya kehadiran wanita itu dalam sisa kehidupan ini. Berkat senyumnya, dan semangatnya aku kembali ingin merasakan kearifan alam ini. Bahkan dalam relung jiwa rasanya ingin kutumpahkan rasa cintaku pada wanita terindah itu. Wanita yang selalu ada buat aku dikala aku merasakan proses pembentukan karakter dalam jiwa ini.

Dear diary…

Sebelum kuselesaikan tulisan ini, izinkan aku tuk mengatkan sesuatu buat wanita yang selama ini menjagaku, memanjakanku, menyayangiku dan mencintaiku. Kau mungkin bukan yang pertama, tapi kau orang pertama yang tau siapa aku dan bagaimana keluarga besarku. Cuman padamu aku mengatakan semuanya. Karena aku yakin, kau adalah wanita yang tuhan kirim tuk menemani sisa kehidupanku menuju surga-Nya. Amin.

“ setiap orang punya cara sendiri tuk menunjukkan rasa cintanya, mungkin selama ini aku berbeda dengan orang sudah pernah mengisi hari harimu dengan kasih sayang, tapi bagaimana pun bentuk semua itu,,Itulah Aku Dengan Caraku Menyayangi dan Mencitaimu…”

I MISS U…
I LOVE U…

Buat Wanita Yang Sudah Menjadi DIARY KECIL DALAM SENYUMAN INI….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar